Sejarah

Dalam rangka meningkatkan kualitas sumberdaya manusia Indonesia dalam bidang pengembangan teknologi dan persiapan memasuki era perdagangan bebas, diperlukan konvergensi upaya dalam penyiapan sumber daya manusia yang mampu bersaing untuk mengelola potensi dan sumberdaya suatu wilayah. Demikian halnya Provinsi Aceh, yang secara geografis berada dalam kondisi strategis yakni berada di pintu gerbang perdagangan Selat Malaka dan Samudra Indornesia yang juga berbatasan dengan negara Thailand, Malaysia dan Singapura serta negara-negara Asia Selatan lainnya. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia melalui surat No: 724/E.E2/DT/2013 tanggal 25 Juni 2013 memberi mandat kepada Univesitas Syiah Kuala untuk menyelenggarakan Program Magister Teknik Industri (MTI) yang akan memperkuat Program Sarjana Teknik Industri yang telah berjalan sejak tahun 2010 dan memperluas kesempatan melanjutkan strata akademik ke jenjang magister (S2) bagi lulusan Teknik dan multisipliner yang terkait, dengan harapan sumberdaya manusia Indonesia menjadi lebih siap menghadapi persaingan global di dunia industri. Program Magister ini dirancang melalui proses identifikasi potensi sumberdaya dan kebutuhan lokal dengan proyeksi ke depan secara nasional dan ASEAN. Dalam menghadapi tantangan utama di bidang pendidikan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni (IPTEKS), pemerintah merencanakan tercapainya peningkatan ekonomi dan sosial sejalan dengan perubahan paradigma pendidikan tinggi. Untuk itu Program Studi Magister Teknik Industri Universitas Syiah Kuala menyusun misi dan visi-nya sesuai dengan tuntutan zaman. Oleh karena itu untuk pengembangkan Program Magister Teknik Industri dalam lima tahun kedepan maka diperlukan penyusunan RENSTRA.